Bencana Alam di Indonesia ( tsunami )


Ada Apa dengan Tsunami?


KETIKA bencana alam gempa bumi (‘eartquake’) dan gelombang pasang (tsunami) terjadi di Aceh dan Sumatera Utara, semua orang teriris dan terbawa perasaaan duka mendalam melihat kondisi yang terjadi. Mayat orang-orang yang tidak berdosa dan dicintai tewas, serta ribuan orang hilang hingga mencapai angka diatas 200.000 orang.


Berita utama (‘head line’) di semua media nasional maupun internasional, senantiasa memaparkan perkembangannya tiap hari. Kondisi ini memang sangat menguntungkan beberapa pihak, terutama semakin meningkatnya oplah dari beberapa media. Namun, Penulis tidak sedang membahas keuntungan dan kerugian yang terjadi akibat dari bencana nasional ini. Tetapi, paling tidak dari pemberitaan tersebut, menimbulkan dampak sosial (‘social impact’).


Setelah mendengar dan menyaksikan tayangan dari media massa baik elektronik dan cetak, mulailah bermunculan kepedulian akan terjadinya korban bencana ini. Bantuan berdatangan dari masyarakat bahkan dari berbagai belahan dunia, baik berupa material maupun tenaga. Banyaknya orang-orang peduli/sukarelawan (orang yang suka dan rela--red), yang ingin membantu sesama manusia. Tetapi, untuk menjadi sukarelawan Aceh dan Sumut, diperlukan keahlian tertentu, sehingga di lokasi kejadian nantinya tidak menjadikan beban bagi yang lain.


Dari kejadian diatas, ada beberapa hal menarik untuk kita dipetik, diantaranya adalah munculnya kepedulian sosial yang terjadi akibat dari, pertama, kondisi yang memilukan, yang bisa mengetuk hati setiap orang yang mengetahuinya. Kedua, adanya ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi kondisi, sehingga memunculkan perasaan ingin membantu. Dan ketiga, adanya pemberitaan yang gencar dari media massa secara terus menerus, dari mulai pagi sampai malam, sehingga pemirsa dan pendengar, suka atau tidak suka dengan pemberitaan tersebut harus membuka mata dan telinga. Hal ini, bisa menjadikan masyarakat semakin akrab dan familiar pada kondisi tersebut, sehingga memunculkan perasaan iba dan terharu.


Hal selanjutnya adalah, adanya upaya secara bersama oleh semua elemen masyarakat tanpa mempertimbangkan latar belakang, dsb, sehingga, orang yang tadinya tidak ‘terketuk’ untuk membantu dan peduli, tapi setelah melihat pihak lain yang mungkin dianggap lebih ‘tidak mampu’, bisa melakukan sesuatu yang berguna atau bermanfaat maka mereka mulai tergerak untuk peduli. Sehingga munculnya gerakan sosial (social movement) bagi Serambi Mekkah. Inilah beberapa hal mampu memunculkan kepedulian antar sesama anak bangsa yang sedang diselimuti mendung tebal dan cobaan hidup.


Ada yang menggelitik dan penuh makna yang mendalam, ketika pada suatu saat, penulis ‘ngobrol’ mengenai Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dengan Djoko, seorang warga Kelurahan Karangmanyar. Djoko mengilustrasikan tentang keberadaan warga miskin sebagai mereka yang sedang terkena tsunami. Dari pernyataan yang sederhana tersebut, ternyata banyak mengandung makna yang perlu kita tela’ah lagi, tentang bagaimana kita ‘mengevakuasi, merehabilitasi dan rekonstruksinya’.


Proses tersebut juga tidak hanya dengan ‘sim salabiim atau abakadabra!’. Namun, tentu saja melalui proses pembelajaran lewat intervensi P2KP, yang nantinya, juga melalui tahapan-tahapan yang ditawarkan, dengan tujuan untuk memandirikan masyarakat, yaitu dengan ‘memanusiakan manusia’ akan hak dan kewajibannya. Diantaranya adalah, dengan memunculkan orang-orang yang mencerminkan nilai-nilai universal kemanusiaan (jujur, adil, dapat dipercaya, iklas/kerelawanan, kesetaraan, dan kesatuan dalam keragaman), sebagai pilar dalam penanggulangan kemiskinan, yang dalam proses pelaksanaannya, juga harus ditegakkan prinsip demokratis, transparansi, partisipasi, akuntabilitas dan desentralisasi.


Apabila nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan diatas telah luntur, akibatnya bahkan lebih dahsyat dari apa yang ditimbulkan oleh bencana tsunami yang terjadi di Aceh dan Sumut. Karena lunturnya atau hilangnya nilai-nilai baik manusia, bisa memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan, yang imbasnya, sampai kepada hal yang paling hakiki.


Bukan berarti penulis ingin membawa pembaca yang budiman kepada kondisi kontradiktif antara bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Serambi Mekkah ini dengan program pemerintah melalui P2KP, akan tetapi, dari apa yang terjadi, menjadi pembelajaran kita bersama, baik dalam hal pemunculan nilai-nilai universal manusia maupun pemunculan orang-orang peduli (sukarelawan) dengan belajar dari akibat tsunami, diantaranya, dengan mengajak masyarakat untuk berpikir bahwa warga miskin adalah potret kondisi yang memilukan. Mereka (warga miskin) dalam kondisi ketidakberdayaan, sehingga perlu dibantu, perlu dilakukan sosialisasi tentang kondisi mereka, hingga masyarakat luas akan mengetahui kondisi nyata, memberikan penyadaran bahwa kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama dan harus ditanggulangi secara bersama-sama pula. Dengan demikian, bencana ‘gempa dan tsunami’, tidak terjadi pada masyarakat miskin.

Komentar